Mobil Lily Wahid Hanya Kijang Kapsul 97
- Rabu, 16 November 2011 14:35
- | Oleh Tempointeraktif.com
Ternyata tak semua anggota Dewan Perwakilan Rakyat hidup mentereng, bergaya parlente, dan menunggang mobil mewah menuju Senayan. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lily Chadijah Wahid Hasyim adalah salah seorang yang tak ikut-ikutan "mendadak kaya".
Sejak terpilih dari Daerah Pemilihan Jawa Timur, Lily selalu datang ke Senayan menunggang Kijang Kapsul keluaran 1997. Kijang biru metalik berpelat B 7124 JD ini selalu setia menemani Lily tidak hanya ke gedung Dewan, tapi juga ke berbagai kegiatan. "Ini satu-satunya mobil yang saya punya," ujar Lily usai menghadiri diskusi politik di Rumah Perubahan, Selasa, 15 November 2011.
Menurut dia, hingga kini ia tak berniat mengganti mobil yang dibelinya sejak 12 tahun lalu itu. Meski menjadi anggota Dewan, adik kandung bekas Presiden Abdurahman Wahid ini tak pernah berniat mengganti mobilnya. "Saya tidak akan nyaman menaiki mobil bagus sedang masyarakat di daerah pemilihan saya masih hidup di bawah garis kemiskinan," ujar Lily.
Kalau dijual, taksiran harga mobil Lily ini sekitar Rp 100 juta. Tiap hari Lily menghabiskan uang Rp 150 ribu untuk membeli BBM nonsubsidi.
Dengan mobil tua itulah Lily melanglang ke berbagai acara dan pertemuan. Termasuk berkunjung ke daerah-daerah konstituennya. Bagi Lily sama saja, apakah ke gedung mewah atau warung pinggir jalan, mobil yang dipakai tetap satu. "Saya 'happy' dengan mobil ini, yang penting bagi saya mobil tidak macet," ujar Lily sambil tersenyum.
Menurut Lily dalam keadaan negara yang masih memprihatinkan. Pejabat dan politikus harus fokus memperjuangkan kesejahteraan rakyat. "Yang penting bagi saya adalah fokus pada pengentasan kemiskinan."
Lily Wahid menilai sikap bergaya hidup mewah para politikus dan birokrat harus segera dihentikan. Sikap ini kata Lily merupakan cerminan lemahnya empati pemerintah dan politikus terhadap rakyat. "Betul-betul eksekutif dan legislatif sekarang hidup nyaman di atas penderitaan rakyat."
Gaya hidup mewah birokrat dan politikus, kata Lily, menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Ditambah masih dipertahankannya pejabat dan menteri yang terindikasi terlibat korupsi dalam pemerintahan.
Kamis pekan lalu, Ketua KPK Busyro Muqoddas mengkritik pejabat negara menyalahgunakan jabatannnya untuk melipatgandakan modal dan untuk niat jahat korupsi. "Akhirnya mereka pragmatis dan hedonis," kata dia. Pernyataan ini pun disambut Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md. Mahfud menyebutkan pejabat sekarang banyak yang gila hormat.




