Sun05202012

Last update12:00:00 AM

Back You are here: Home Keluarga Keluarga Pemuda Siapakah Yang Memerintah Dalam Hidup Anda?

Siapakah Yang Memerintah Dalam Hidup Anda?

Hakim-Hakim 17:1-6

Dalam perikop ini kita menemukan seorang yang bernama Mikha, dari pegunungan Efraim. Efraim adalah nama salah satu suku Israel dari Yusuf. Mikha adalah gambaran orang-orang Kristen.

Sampai sekarang banyak orang Kristen seperti Mikha yang kehidupannya terbelah dua. Di satu pihak dia percaya kepada Tuhan, tetapi di pihak lain dia menciptakan Tuhannya sendiri. Mikha mengambil uang ibunya kemudian dikembalikannya. Ibunya berkata (dalam kalimat terakhir ayat 2) : “Diberkatilah kiranya anakku oleh Tuhan”. Dan pada ayat 3 : “Aku mau menguduskan uang itu bagi Tuhan”. Berarti Mikha dan ibunya adalah orang yang percaya kepada TUHAN (YAHWEH). Nama TUHAN adalah nama yang sangat dihormati di kalangan Israel. Tetapi kita baca selanjutnya dalam ayat 3 sesuatu yang kontras. Ibunya berkata : “Aku mau menguduskan uang itu bagi Tuhan, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuatnya patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu..”

Di satu pihak Mikha dan ibunya percaya YAHWEH, percaya ada Tuhan, tetapi di lain pihak mereka membuat “tuhannya” sendiri. Uang itu digunakan untuk membuat patung. Mereka ingin melihat satu Tuhan yang kelihatan. Inilah yang sering terjadi kepada orang-orang Kristen. Di satu pihak mereka percaya Yesus, tetapi di pihak lain, dalam kehidupan sehari-hari membuat Tuhan-tuhan sendiri. Ada orang yang membuat Tuhannya itu uangnya, kariernya, profesinya, businesnya, anak-anaknya, cucu-cucunya, dlsb. Padahal Tuhan itu satu dan selalu harus mendapat tempat yangnomor satu dalam hidup manusia.

Pada zaman ini ada orang Kristen yang percaya kepada Yahweh tetapi juga membuat tuhan-tuhan sendiri. Memberikan tempat kepada hal-hal lain menjadi nomor satu dalam hidup ini; Ini jelas salah! Kenapa banyak orang Kristen tidak bisa diberkati 100%, kenapa banyak anak-anak Tuhan tidak dipelihara Tuhan secara semestinya, kenapa banyak anak-anak Tuhan kehidupannya (keluarganya) tidak bahagia. Bahkan ada orang Kristen kelihatannya sukacita di gereja, tetapi hidupnya dirundung malang. Karena banyak orang Kristen yang katanya percaya Yesus, tetapi mereka juga membuat tuhannya sendiri. Dengan menempatkan materi, intelektual, pangkat, jabatan, kekayaan sebagai yang nomor satu dalam hidup, Yesus tidak menempati posisi sebagai Tuhan dalam hidup ini. Bisa ke gereja setiap hari minggu, tetapi Tuhannya yang sebenarnya bukan Tuhan Yesus. Dia menumpahkan segala harapannya kepada uangnya, kepada bisnisnya, kepada karirnya. Banyak anak-anak muda waktu mencari jodoh melupakan Tuhan, tetapi setelah kawin baru menyesal. Pacarnya berada di atas Tuhan.

Ayat yang ke-6 berkata : “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel ; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”. Tidak ada raja di antara orang Israel, berarti tidak ada penguasa. Akibatnya setiap orang Israel berbuat apa yang baik menurut pandangannya sendiri-sendiri. Diri sendiri menjadi penguasa, menjadi pemerintah. Ada banyak defenisi tentang dosa, antara lain : memberontak kepada Tuhan, tidak setia kepada Tuhan, tidak taat kepada firman Tuhan. Tetapi dalam Yesaya 53:6a ditulis : “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri”.

Manusia berdosa cenderung mengambil jalan-jalannya sendiri. Hidup menurut pendapatnya, menurut pahamnya, menurut paradigmanya, semua mencoba mencari jalan menurut apa yang dia rasa benar. Alkitab katakan bahwa sikap demikian adalah seperti domba yang sesat. Satu kawanan domba biasanya terdiri dari puluhan ribu domba dan diarahkan oleh gembala. Semua domba-domba itu perlu gembala untuk memimpin, mengatur. Domba-domba akan tersesat kalau tidak ada gembala, masing-masing pergi menurut jalannya sendiri. Jadi, kalau Anda adalah seorang Kristen dan aktif dalam ibadah-ibadah raya Minggu, tetapi Anda tidak mengikuti arahan-arahan Tuhan, tidak mempunyai raja dalam hidupmu, maka Anda masing-masing hidup menurut jalannya sendiri. Karena itu waktu Yesus lahir, orang-orang majus bertanya kepada Herodes : “Di manakah raja yang telah lahir itu?” (Matius 2:1-2). Raja-raja yang ada di dunia ini tidak luput dari dosa, tetapi Raja kita adalah Yesus Kristus. Seorang Kristen kalau hidupnya tidak diperintah oleh Yesus, Raja di atas raja, berarti dia sesat.

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah!” Kolose 3:15. Tidak cukup bagi kita hanya mengenal Kristus, hanya menjadi warga gereja, asalkan bisa memuji Tuhan, kita harus menerima Yesus Kristus menjadi penguasa dalam diri kita. Apakah Kristus telah memerintah dalam hidup kita serta menghasilkan damai sejahtera? Kita harus selalu mengoreksi diri, apakah benar ada Kristus memerintah dalam hidup kita, apakah ada Roh Kudus menguasai hidup kita. Adakah Kristus berdiam di hati kita memerintah seluruh hidup kita. Kalau Tuhan yang memerintah dalam hati kita, maka jalan kita bukan ditentukan oleh kita sendiri melainkan oleh Roh Kudus yang mengatur dan Firman Tuhan yang membuka jalan.

Filipi 4:7-8. Pikiran kita jangan menjadi masing-masing menurut jalannya sendiri, tetapi kiranya damai sejahtera Yesus Kristus memerintah hidup kita karena damai sejahtera Allah melampaui segala akal. Puji Tuhan!

Buat Komentar Anda


 

Tentang kami

peduliGEREJA.com

Tentang kami

Di tengah minimnya informasi rohani Kristen di dunia maya / internet, peduliGEREJA.com hadir menyajikan beragam artikel khotbah, pendalaman Alkitab, serta mengulas tentang multimedia gereja, dan banyak informasi penting lainnya dengan sajian ...... selanjutnya