Berserulah Kepada Tuhan
- Senin, 13 Februari 2012 00:28
- | Oleh Pdt. Dr. Elim Simamora, MTh (Senior Pastor Royal Priesthood Community Medan, Sumut)
Keluaran 15:22-25
Pikiran kita umumnya terpola dengan pemahaman bahwa kalau Tuhan yang menyuruh untuk pergi ke suatu tempat maka semuanya pasti beres, sebab Tuhan sudah atur dan sediakan. Sehingga ketika terjadi kesulitan maka kita beranggapan bahwa bukan kehendak Tuhan bagi kita untuk berada di tempat itu. Selalu kita merasa bahwa kalau itu kehendak Tuhan maka segala sesuatu pasti beres.
Saya percaya bahwa Tuhan yang memerintahkan Musa untuk bergerak dari satu ke tempat ke tempat lainnya. Jai ketika Musa menyuruh bangsa Israel bergerak itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi pertanyaan adalah, kalau Tuhan yang menyuruh Musa dan bangsa itu bergereka, kenapa mereka tidak mendapatkan air bahkan di Mara ada air tetapi pahit, tidak bisa diminum (ayat 23). Ini persoalan yang sulit dan sangat berat. Tetapi kita melihat ayat 22 dan 23 ada peningkatan, dari yang tidak ada air menjadi ada air walaupun pahit, tidak bisa diminum. Inilah sebuah fakta yang terjadi dalam kepemimpinan Musa.
Kenapa bisa Tuhan memimpin Israel ke suatu tempat yang tidak ada airnya? Atau kenapa bisa Tuhan memimpin ke Mara yang airnya pahit. Apakah Tuhan keliru menempatkan bangsa itu atau menyuruh bangsa itu untuk bergerak? Alkitab mencatat bahwa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk mencoba atau menguji bangsa itu. Keluaran 15:25 – “......Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka.”
Apa reaksi bangsa Israel melihat peristiwa itu? Mereka bersungut-sungut kepada Musa (ayat 24). Bersungut-sungut adalah hal yang paling sering terjadi dan paling mudah dilakukan. Bersungut-sungut kepada pemimpin, kepada gembala atau hamba Tuhan. Ketika jemaat menghadapi kesulitan paling mudah untuk bersungut-sungut kepada gembala. Karena itu seringkali sebagai gembala dan pemimpin saya super hati-hati dalam memberikan nasehat. Sebab setiap nasehat yang kami sampaikan selalu dituntut dan diminta pertanggungjawaban atasnya. Bangsa itu bersungut-sungut kepada Musa karena Musa yang menyuruh mereka bergerak dan pergi. Kalau nasehat kita sempat mengecewakan orang lain maka kita bisa diserang balik.
Suatu ketika salah seorang jemaat kami divonis dokter positif mengidap kanker prostat dan disarankan untuk operasi. Sebelum berangkat ke Singapura, Bapak itu minta pendapat saya apakah ikut saran dokter untuk operasi atau tidak. Saya pikir ini pertanyaan yang sulit, sebab kalau saya bilang operasi saja dan ternyata gagal ia akan menyalahkan saya sebab saya yang menyuruh dioperasi. Dan kalau saya bilang tidak usah operasi, berdoa saja, maka kalau tidak sembuh ia akan menyalahkan saya karena tidak menyuruhnya operasi. Saya bingung mau jawab bagaimana, tetapi akhirnya saya tanya Bapak itu: menurut iman Bapak bagaimana? Kemudian dia jawab: saya mengimani bahwa tidak perlu operasi saya bisa sembuh. Lalu saya katakan: saya dukung iman Bapak. Lalu kami berdoa dan kemudian dari Singapura dikabari bahwa ternyata ia tidak perlu operasi karena penyakitnya sudah sembuh total dari kanker prostat.
Jadi sebenarnya sangat tidak fair kalau kita melempar kesalahan kepada para pemimpin. Setiap orang harusnya juga punya iman dan harus punya keberanian dalam menghadapi setiap kenyataan. Atau kalau mereka tidak yakin bahwa Musa itu dipilih Tuhan, baiknya mereka tidak usah bergerak. Tetapi ketika Israel berani bergerak mereka juga harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah memimpin umatNya.
Kalaupun akhirnya kita dibawa ke situasi yang sulit, sebenarnya kita hanya bertanya kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Dan itulah yang dilakukan oleh Musa. Keluaran 15:25 – “Musa berseru-seru kepada TUHAN ....”Musa berseru kepada Tuhan, sedangkan umat Israel terus bersungut-sungut. Karena umat itu bersungut-sungut Tuhan tidak bereaksi. Tetapi ketika Musa berseru kepada Tuhan, Tuhan memberi jalan keluar.
Pertanyaannya, mana lebih menghemat tenaga bersungut-sungut atau berseru. Berseru bukan? Kalau orang bersungut-sungut, hatinya terganggu, pikirannya terganggu, tetangganya terganggu dan orang yang kita sungut-sunguti lebih terganggu. Si suami akan terganggu kalau istri mengomel atau terus bersungut-sungut di rumah. Tetapi umumnya manusia lebih memilih bersungut-sungut kepada Tuhan daripada bertanya kepada Tuhan. Padahal kita tinggal tanya kepada Tuhan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Musa bertanya kepada Tuhan maka Tuhan menunjukkan kepadanya sepotong kayu (ayat 25). Ajaib, kayu yang ditunjukkan Tuhan dilemparkan kepada air dan air itu manis. Perhatikan, pertolongan Tuhan sangat mudah, simpel dan praktis. Kalau kita disuruh atau ditempatkan Tuhan di tempat yang kering atau gersang karena Tuhan ingin pakai kita untuk merubah tempat itu. Itu satu kesempatan dari Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya melalui kita. Tetapi kalau kita langsung bersungut-sungut maka Tuhan akan berdiam diri dan membiarkan kita. Tetapi ketika kita berseru maka Tuhan akan bertindak.
Kadang-kadang kita tidak bisa keluar dari persoalan karena kita terus bersungut-sungut, terus mengeluh atau sibuk menyalahkan orang lain dan lupa berseru kepada Tuhan. Lupa mencari mujizat dari Tuhan, lupa bahwa Tuhan sumber dan pembuat mujizat. Inilah persoalan banyak anak Tuhan dewasa ini sehingga jarang melihat mujizat Tuhan.
Kejadian 1:1 berbunyi : “Pada mulanya Allah.....” Arti kalimat ini adalah bahwa Allah lah permulaan segala sesuatu. Dalam Yohanes 1:1-3 dikatakan bahwa Yesus adalah permulaan segala sesuatu, segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Berarti segala sesuatu bermula dari Allah karena Dialah yang menjadikan segala sesuatu termasuk kita. Jadi seharusnya kalau kita punya masalah kita harus pergi atau kembali kepada pencipta kita. Ada masalah berserulah kepada Tuhan, karena Tuhan lah permulaan segala sesuatu. Tuhan sanggup menyelesaikan segala persoalanmu.
Begitu kita berseru kepada Tuhan, Tuhan punya berbagai cara untuk menyelesaikan persoalan kita. Ketika Musa berseru, Tuhan hanya menggunakan sepotong kayu untuk merubah air yang pahit menjadi manis. Tidak ada yang sulit bagi Tuhan asal kita berseru kepadaNya. Seringkali kita mengaku orang beriman, orang percaya, tetapi apakah Anda percaya dan bergantung kepada Tuhan?
Jadi, kalau persoalan datang, kembalilah kepada Penciptamu, kepada Dia yang menyuruh engkau bergerak, yang menyuruh engkau berjalan. Tuhan sudah menyiapkan penyelesaian dari segala persoalan yang kita hadapi. Tuhan memberkati




