peduliGEREJA.com

Memberkati untuk Diberkati!

  • Home
  • Sabda
    • ilustrasi

      Kemana kita Pergi

      Kepada Hagar, malaikat Tuhan bertanya : dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu? Kalau ayat ini kita gunakan seba ...

  • Siapakah Yesus
  • Berita
  • Keluarga
  • Ulasan
    • Flywheel

      Flywheel

      Film ini penuh dengan inspirasi untuk hidup benar di hadapan Tuhan, di tengah banyaknya orang mengedepankan keuntungan dan ....

  • Media Gereja
  • Hubungi / Saran & Tanggapan

Mon09012014

Last update12:30:41 PM

Back You are here: Home Sabda Sabda Artikel Khotbah TO LEAVE OR TO STAY

TO LEAVE OR TO STAY

Yohanes 11:38-45

Kita sudah sering mendengar nats Firman Tuhan ini. Beberapa pengkhotbah menjelaskan tentang Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Ada yang mengkhotbahkan tentang Marta dan Maria yang bimbang tetapi ketika Yesus datang terjadi mujizat. Tetapi dalam pada kesempatan ini akan sampaikan dari sudut pandang Lazarus.

Menurut anda bagaimana Lazarus keluar dari kubur, apakah ia keluar dengan gembira atau sedih? Kemungkinan besar Lazarus keluar dengan sedih.  Karena keluarga Lazarus adalah sahabat Yesus, tentu orang yang percaya kepada Yesus, maka tentu selama empat hari Lazarus mati, rohnya tentu kembali dan berada di surga. Menurut Alkitab, surga adalah tempat yang menyenangkan. Di sana tidak ada airmata, kesedihan, ketakutan, kekuatiran dan penderitaan. Jadi selama empat hari Lazarus bergembira di surga menikmati kekekalan. Namun tiba-tiba ada suara dari dunia memanggil Lazarus. Karena itu kemungkinan besar ia keluar dengan sedih sebab ia harus kembali ke dunia, tempat yang penuh dengan masalah dan persoalan.

Pertanyaannya, apakah kita lebih baik pergi atau tetap tinggal (to leave or to stay)? Semua kita pasti diperhadapkan dengan pertanyaan ini.

Ayub diperhadapkan dengan pertanyaan ini. Alkitab mencatat bahwa Ayub adalah seorang yang benar hidupnya, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ia juga seorang pria yang sukses, punya harta kekayaan yang banyak, memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Tetapi dalam sekejab, semua yang dimilikinya lenyap, termasuk anak-anaknya. Ia menderita dan tubuhnya penuh barah mulai dari kepala hingga telapak kaki. Tidak ada yang salah dengan hidup Ayub, tetapi hal yang buruk terjadi dalam hidupnya. Dalam situasi demikian, apakah Ayub meninggalkan Tuhan? Apalagi istrinya membantunya untuk mengambil keputusan (Ayub 2:9). Tetapi Alkitab mencatat bahwa Ayub tetap setia kepada Tuhan dan akhirnya hidupnya diberkati luar biasa.

Ketika hal-hal yan buruk terjadi kepada kita apakah kita pergi meninggalkan Tuhan atau tetap bertahan. Memang hal yang paling mudah dilakukan ketika diperhadapkan dengan ujian adalah meninggalkan semuanya. Tetapi ingat, kalau kita tinggal tetap kita pasti melihat mujizat Allah.

Abraham juga diperhadapkan dengan pertanyaan di atas. Dalam Kejadian 13 Tuhan sudah berjanji bahwa Abraham akan mempunyai keturunan yang sangat banyak. Waktu itu umur Abraham 75 tahun. Namun sampai umur 99 tahun janji itu belum digenapi. Mungkin saja orang-orang menertawakan Abraham. Tetapi sekalipun janji Tuhan sepertinya ditunda, Abraham tetap tinggal setia. Buktinya, tempat pertama Abraham menerima janji tentang keturunan dan berkat adalah di Mamre. Kemudian dalam Kejadian 13,14,15,16,17 mencatat bahwa Abraham tidak pernah meninggalkan Mamre. Lalu kemudian dalam Kejadian 18 pun ketika Tuhan terakhir kalinya menyampaikan bahwa tahun depan ia akan mendapatkan seorang anak, Abraham tetap tinggal di Mamre. Abraham tidak pernah meninggalkan Mamre. Pada saat janji Allah sepertinya ditunda bagi kita, tetaplah setia. Saat Abraham berumur 100 tahun ia mendapatkan Ishak, karena ia tetap tinggal setia.

Kejadian 26:1-3. Tantangan yang dihadapi Ishak adalah bahaya kelaparan. Kelaparan adalah suatu keadaan yang serba kekurangan. Saat Ishak dalam posisi seperti itu, hal yang pertama yang ingin dia lakukan adalah pergi ke Mesir. Tetapi Allah melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap di tanah perjanjian. Seringkali saat terjadi krisis dalam hidup ini, kita sepertinya mau kembali kepada kehidupan yang lama, yaitu suatu tindakan yang mengandalkan kekuatan sendiri, atau mempercayai orang-orang melebihi Tuhan. Pada saat kekurangan apakah kita bertahan atau tinggalkan Tuhan. Ishak akhirnya tetap tinggal di tanah perjanjian. Dan Alkitab mencatat bahwa pada tahun yang sama Ishak mendapat hasil berlipatganda dan ia menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-13).  Pada saat kita mengalami kekurangan, yang paling mudah adalah meninggalkan gereja. Tetapi saat kita bertahan, Tuhan akan muncul dan dia akan membuat yang tidak ada menjadi ada.

Yakub juga diperhadapkan dengan pertanyaan di atas. Hanya Yakub diperhadapkan dengan satu hubungan keluarga. Dalam Kejadian 31:3 Tuhan berfirman kepada Yakub : “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau." Bagi Yakub ini perkara yang sulit. Sebab sejak dari kecil ia adalah seorang penipu. Ia sudah menipu abangnya Esau, bahkan telah menipu ayahnya Ishak. Ia dikejar-kejar dan hampir semua keluarganya membencinya. Kalau ia kembali ke negerinya berarti ia harus merendahkan diri, harus minta maaf kepada keluarganya dan belajar untuk mengasihi mereka. Kadangkala sangat sulit untuk mengasihi oranglain. Tetapi kasih itu harus dilakukan. Yakub akhirnya patuh kepada Tuhan untuk kembali kepada nenek moyangnya dan Tuhan memberkatinya. Tuhan mengubah nama Yakub menjadi Israel. Jadi, kalau kita bermasalah dalam hubungan jangan pernah lari tetapi lakukanlah kehendak Tuhan yaitu mengasihi dengan mengampuni.

Rasul Palus juga pernah diperhadapkan dengan pertanyaan di atas. Filipi 1:21-24. Waktu itu Paulus sedang menjalani hukuman penjara Roma. Di satu sisi ia ingin memilih untuk kembali kepada Kristus. Tetapi puji Tuhan rasul Paulus memilih tetap di penjara. Dan di penjara Paulus menamatkan tulisan suratan Filipi. Oleh karena pilihan itulah maka kita sekarang bisa membaca surat Filipi yang sangat memberkati dan menguatkan kita. 

Kembali kepada kisah Lazarus dalam ayat pokok di atas, dimana Alkitab mencatat bahwa Lazarus sudah mati selama empat hari.

Menurut tradisi Yahudi, ada tujuh hari masa perkabungan, yang terbagi dalam dua bagian, yaitu tiga hari pertama disebut hari dukacita dan empat hari yang kedua adalah hari untuk menangis. Sebab tiga hari yang pertama mereka percayai bahwa roh yang meninggal masih ada di sekitar kubur dan mencari kesempatan untuk kembali ke tubuhnya dan  bangkit kembali. Namun pada hari keempat, tidak ada lagi harapan untuk bangkit sebab tubuh orang itu sudah mulai hancur dan berbau. Sehingga mereka akan menangis dan menjerit-jerit.  Tetapi perhatikan bahwa Yesus datang di hari keempat. Di saat orang katakan tidak ada harapan justru Yesus muncul untuk menyatakan mujizat.

Pada saat orang-orang berkata pernikahanmu sudah hancur, tidak ada lagi harapan untuk sembuh, atau tidak mungkin engkau punya keturunan, maka pada saat itulah Yesus datang dan mengadakan mujizat. Pada saat itulah Yesus datang dan berkata bahwa akulah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25). Kalau kita percaya kita akan melihat kemuliaan Tuhan (Markus 9:23). Amin!

Yohanes 11:45 – “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.” Ketika saya membaca ayat ini, saya mengerti kenapa walaupun kita sudah sungguh-sungguh di dalam Tuhan percobaan masih menimpa kita. Bahkan ada kalanya kita diperhadapkan dengan situasi yang buntu. Namun ternyata dalam keadaan yang mustahil itu Yesus pasti datang dan memberikan mujizatnya yang luar biasa. Dan orang-orang akan melihat apa yang Yesus lakukan dalam hidup kita yang akhirnya mereka percaya dan memuliakan Tuhan. God bless us! (bc/as)

 

Buat Komentar Anda


 

Tentang kami

peduliGEREJA.com

Tentang kami

Di tengah minimnya informasi rohani Kristen di dunia maya / internet, peduliGEREJA.com hadir menyajikan beragam artikel khotbah, pendalaman Alkitab, serta mengulas tentang multimedia gereja, dan banyak informasi penting lainnya dengan sajian ...... selanjutnya

We have 7 guests and no members online