Puasa yang Kudus
- Rabu, 09 November 2011 22:07
- | Oleh Pdt. Dr. M.D. Wakkary (Ketua Umum PGPI)
Yoel 1:14, 215.
Banyak orang berpuasa dengan cara yang berlainan ; ada yang puasa karena tidak ada makanan, puasa karena diet, puasa untuk menurunkan kolesterol, puasa karena diharuskan dokter untuk kesehatan. Bahkan ada yang berpuasa karena hemat. Tetapi puasa yang dianjurkan Firman Tuhan adalah puasa yang kudus.
Jadi, puasa itu adalah perintah atau instruksi dari Firman Tuhan. Tiup sangkakala berarti seruan untuk berkumpul. Perkumpulan raya untuk puasa yang kudus.
Dalam Alkitab, puasa itu dianjurkan, hanya tidak dipaksan.
1. Puasa Raya. 2 Tawarikh 20:1-4
Yosafat adalah raja di Yehuda dan ibukotanya Yerusalem. Ada tiga bangsa yang bangkit menyerang Yerusalem, yakni pasukan Moab, tentara Amon dan laskar dari Meunim (sering disebut bangsa Edom). Ini satu pasukan besar yang muncul tiba-tiba untuk menghancurkan Yerusalem. Yosafat menjadi takut tetapi ia percaya Tuhan, lalu ia mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Yosafat menyerukan kepada seluruh bangsa Yehuda supaya berpuasa. Dalam ancaman yang begitu genting, Yosafat menyerukan bangsanya untuk berpuasa, mencari Tuhan.
Sangat besar manfaat dari puasa berjemaah. 2 Tawarikh 20:14,15. Setelah Tuhan melihat bahwa bangsa itu dengan serentak berpuasa, Tuhan berkata : “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.” Setelah bangsa Yehuda berpuasa, mereka mendapat kemenangan gilang-gemilang. Tidak perduli dengan pasukan Yosafat yang sedikit dibanding dengan kekuatan tiga bangsa yang akan menyerang. Mereka tidak perlu mengerahkan senjata-senjata perang. Hanya mengerahkan gambus, kecapi, nafiri untuk memuji menyembah Tuhan. Akhirnya ketiga bangsa itu saling berperang. Karena seluruh bangsa Yehuda kompak mencari Tuhan dengan cara berpuasa dan berdoa.
Kita perlu berpuasa, sehingga jemaat kita bertumbuh, berkembang, karena puasa jemaat besar kuasanya.
2. Puasa Pribadi. 2 Samuel 12:16. Ketika Daud berbuat zinah dengan Betsyeba, istri Uria, salah seorang panglima tentaranya, maka nabi Natan memperingatkan Daud, dan memberitahukan bahwa anak dari hasil perselingkuhannya dengan Betsyeba akan meninggal. Mendengar itu Daud syok. Ia berdoa dan berpuasa, minta belas kasihan Tuhan, supaya jangan anak itu menjadi korban dari perbuatan dosanya. Ia berpuasa dan membaringkan / tiarap di tanah supaya anak itu jangan mati. Ternyata setelah tujuh hari Daud berpuasa, anak itu mati (ayat 17). Ketika Daud mengetahui bahwa anak itu sudah mati, ia bangun dari lantai, mandi, bertukar pakaian lalu makan. Mungkin orang kebingungan melihat sikap Daud. Tetapi Daud tahu bahwa Tuhan mempunyai keputusan yang tepat. Daud berkata bahwa kalau Tuhan sudah memutuskan untuk mati, tidak ada yang bisa tolak, bahkan tidak bisa saya bangunkan dengan puasa saya, nanti saya akan ketemu di sorga.
Pertanyaannya, apakah puasa Daud berarti gagal sebab anaknya akhirnya meninggal? 2 Samue 12:24-25. Sekitar satu tahun kemudian, Tuhan mengganti seorang anak yang lain. Anak itu sehat, kuat dan sangat cerdas, namanya Salomo. Nabi Natan memberi nama anak itu Yedija, artinya oleh karena Tuhan. Anak itu kemudian menjadi raja Israel menggantikan Daud. Dan daerah kekuasaannya mulai dari Laut Tengah sampai ke Sungai Efrat atau mulai dari Palestina sampai ke Irak. Dialah raja yang paling kaya yang pernah ada di kolong langit ini.
Jadi doa puasa Daud untuk anaknya yang lahir karena perselingkuhan, Tuhan tidak hidupkan. Tetapi Tuhan lihat pertobatan Daud. Baca Mazmur 51. Setahun kemudian Tuhan pulihkan hidup Daud. Jadi jangan cepat-cepat menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Tuhan apabila doa puasa anda belum tercapai. Tuhan pasti jawab dan lipatgandakan.
3. Puasa Sukacita. Zakaria 8:18-19. Sekitar tahun 538 Sebelum Kristus, oleh dekrit dari Kaisar Persia, sebagian besar orang Yahudi diijinkan pulang ke Yerusalem. Dan selama 70 tahun di Babelonia, mereka mempunyai trasisi berpuasa 4 kali setahun, yakni pada bulan keempat, bulan kelima, bulan ketujuh dan bulan kesepuluh. Puasa ini adalah hari memperingati tentara Nebukadnesar menghancurkan Yerusalem, hari tentara Nebukadnezar mengepung Yerusaelm, hari mereka ditawan ke Babeloina dan hari Yerusalem dibakar. Jadi empat kali puasa itu adalah hari peringatan dukacita. Itu dilakukan selama 70 tahun, puasa mengenang kehancuran Yerusalem. Tetapi sekarang mereka sudah kembali ke Yerusalem. Dan Zakharia berkata, sekarang bukan lagi puasa karena empat peringatan itu. Puasa sekarang harus menjadi puasa sukacita, puasa kegirangan, bukan puasa dukacita.
Puasa sekarang yang diminta oleh Tuhan bukan puasa karena terpaksa, atau karena didorong-dorong untuk berpuasa. Puasa karena sukacita, karena dari hati.
Ada tiga alasan kenapa kita harus dengan sukacita berpuasa :
a. Damai sejahtera. Zakharia 8:12. Kita berpuasa dengan sukacita karena Tuhan sekarang sedang menabur kesejahteraan. Pertanian akan maju kembali, bisnis akan berhasil.
b. Keselamatan dan jadi berkat. Zakhari 8:13. Dulu bangsa Israel-Yehuda terkutuk, tetapi sekarang menjadi bangsa yang diberkati dan menjadi berkat karena Tuhan sudah selamatkan.
c. Kebaikan Tuhan. Zakharia 8:15. Kita berpuasa karena sekarang adalah kebaikan Tuhan tercurah. Itu sebabnya berpuasa sekarang bukan puasa terpaksa. Tetapi kalau anda menerima kebaikan Tuhan, maka kita patut untuk berdoa dan berpuasa dengan sukacita supaya berkat itu berkesinambungan.
Matius 6:16. Yesus mengajar bahwa kalau berpuasa jangan muram. Orang yang demikian adalah seperti orang munafik. Setiap orang yang berpuasa ada upah dari Tuhan. Matius 6:17-18. Tetapi kalau puasa munafik, puasa terpaksa, tidak dengan sukacita, ia sudah mendapat upahnya, dengan orang menghormatinya. Jangan pandang enteng berpuasa, sebab setiap puasa kita dilihat oleh Bapa di surga, dan akan membalasnya kepadamu.
Seringkali berkat kita kecil-kecilan, tidak sememadai apa yang kita butuhkan. Mungkin perlu kita menambah doa kita dengan puasa. Jangan pandang enteng doa puasa. Doa puasa besar kuasanya. Doa puasa membuat yang musthail menjadi mungkin.Tuhan memebrkati




